Beberapa Fakta Mencengangkan dalam Meninggalnya Kiper Profesional Choirul Huda

Persepabolaan Indonesia kembali berduka atas meninggalnya seorang kiper handal dalam salah satu pertandingan yaitu Choirul Huda. Tidak ada yang menyangka bahwa kiper yang sampai saat ini membela klup Persela Lamongan itu meninggal pada usia yang cukup masih mudah 38 tahun. Dapat dikatakan ia merupakan salah satu pemain senior dari Persela, karena sejak tahun 1999 telah bergabung dalam klub kebanggaan masyarakat Lamongan tersebut. Bisa dihitung sendiri bahwa hampir 20 tahun Choirul membela klub tersebut sampai sebelum akhirnya meninggalkan.

Huda meninggal karena benturan keras yang dialaminya saat melakukan pertandingan melawan Semen Padang pada kompetisi Liga 1. Hal itu tentu saja menyentak publik sepak bola, apalagi untuk klub kebanggaannya Persela. Huda sendiri sempat dilarikan kerumah sakit tetapi memang takdir berkata lain yaitu nyawanya sudah tidak bisa tertolong lagi. Bagi Anda yang belum mengetahui kejadian itu, berikut ini ada beberapa fakta dari peristiwa kiper Persela tersebut, antara lain:

Baca juga: 4 Pelajaran Penting dari Peristiwa Choirul Huda yang Bisa Menjadi Bahan Evaluasi

  • Terbentur teman sendiri.

Kematian itu terjadi setelah sesaat Huda mengalami benturan hebat dengan teman satu timnya yaitu Ramon Rodrigues. Sebelumnya memang ia berhasil menyelamatkan bola yang mengarah menuju gawang Persela, tetapi ternyata kepala dari Huda mengalami benturan dengan kaki rekannya.

  • Sempat duduk.

Dan setelah mengalami benturan yang cukup keras kiper handal itu tidak langsung tak sadarkan diri. Huda masih sempat duduk dan selalu memegang dadanya, tetapi dalam waktu yang tidak begitu lama Choirul Huda ambruk dilapangan dan langsunglah petugas medis berburu-buru menuju lapangan dan mengambil tindakan.

  • Tidak langsung kerumah sakit.

Dari Tim medis menyebutkan bahwa kiper andalan Persela tersebut tidak langsung dibawa menuju rumah sakit setelah mengalami benturan karena memang masih sadar dan mengeluhkan sakit pada bagian dadanya.

  • Meninggal menjelang magrib.

Setelah sampai dirumah sakit memang masih bernyawa, dan pihak rumah sakit juga langsung memberikan penanganan khusus yaitu perawatan karena kondisinya sangat kritis. Tetapi setelah itu keadaan dari kiper tersebut semakin menurun dan akhirnya meninggal dunia tepat sebelum magrib.

  • Kepada dan leher.

Dari beberapa keluhan sang kiper yaitu sakitnya bagian dada ternyata bukan salah satu penyebabnya. Menurut pihak dokter yang menangani Huda mengatakan bahwa benturan yang dialami tersebut terjadi pada bagian kepala dan juga leher.

Banyak berita simpang siur mengenai meninggalnya sang kiper yang banyak diidolakan masyarakat karena professional kerjanya tersebut. Jika ditarik kesimpulan memang banyak hal yang bisa terjadi dalam lapangan pertandingan dari mulai hal sepele sampai dengan kejadian meninggalnya seorang pemain. Keinginan Choirul Huda untuk mempertahankan gawangnya sampai dengan mengalami berbagai benturan membuatnya patut disebut dengan kiper andalan dan professional.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *